Ahmadiyah dan Kitab Sucinya Tadzkirah

Apa pendapat Muslim Ahmadiyah tentang tadzkirah, apa pula pendapat penentang Ahmadiyah tentang tadzkirah? Inilah yang harus kita tahu, dari dua sisi kita harus sama-sama perhatikan. Tulisan ini hendak memaparkan dari sudut pandang Ahmadiyah tentang tadzkirah ini.

Sudah lumrah orang-orang non Ahmadiyah mengatakan bahwa Tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah, nah apakah benar seperti itu,apakah Ahmadiyah menyatakan seperti itu, bukti apa yang menyatakan tadzkirah itu adalah kitab suci Ahmadiyah. Sebelum pembahasan kepada topik bahasan ini, satu point yang saya hendak tekankan; TADZKIRAH BUKAN KITAB SUCI AHMADIYAH.

Sejauh tuduhan yang mengatakan tadzkirah sebagai kitab suci maka kaitannya tidak terlepas dari perhatian terhadap adanya wahyu-wahyu yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad yang redaksional katanya mirip dengan ayat-ayat Alquran atau malah lebih terkesan “membajak” Alquran. Tetapi Sebelum membahas hal tersebut ada baiknya saya ketengahkan bagaimana ulama-ulama berpendapat tentang permasalahan ini.

Tokoh sufi terkenal yang dijuluki Asy Syaikhul Akbar dan juga dijuluki Khatamul Aulia, yakni Imam Muhyiddin Ibnu Arobi menegaskan bahwa ayat-ayat suci Alquran dapat turun sebagai wahyu kepada para waliyullah dan hal itu tidak berarti mengurangi kehormatan Alquran atau membajak Alquran. Beliau menuliskan:

tanazzalul-quraan alaa quluubil awliyaa maa inqotho’a ma’a qawnihi mahfuuzan lahum walaakin lahum zuuqul-inzaal wahaaza liba’dihihim”

Artinya:” Turunnya Alquran ke dalam hati para wali tidaklah terputus. Bahkan pada mereka ia terpelihara dalam bentuk yang asli. Namun ia diturunkan kepada para wali adalah untuk memberikan cicipan rasa turunnya sebagian mereka”. (Futuhaat makiyyah Jil 2 h. 258, bab:159)

Berikut juga saya tuliskan ulama-ulama yang mendapat wahyu yang berupa pengulangan penuh dari ayat-ayat Alquran, sebagian atau wahyu biasa.

  1. Imam Muhyiddin Ibnu Arabi menuliskan di dalam bukunya Futuhaat Makiyyah jilid 3, hal 367, bahwasannya beliau menerima wahyu qurani sebagai berikut:”Qul aamana billahi wama unzila ilayka wama unzila ilaa ibroohiim wa ismaa’iila wa ishaaqo, waya’quuba wal asbaathi wama uutiya muusa wa’iisaa wama uutiyannabiyyuuna mirrobbihim, laa nufarriqu bayna ahadim minhum wanahnu lahu muslimuun”. Wahyu ini adalah bentuk pengulangan dari surah Albaqarah:136
  2. Khwajah Miir Dard rahmatullah alaihi di dalam kitab beliau yang berjudul Ilmul kitab halaman 64 menyatakan bahwa beliau menerima wahyu yang berbunyi sebagai berikut: Waanzir asyiirotakal aqrobiin (terdapat dalam surah Asysyu’ara:214) Kemudian: “Walaa tahzan ‘alaihim walaa takun fii dhoyyiiqim mimma yamkuruun” (terdapat dalam surah An-naml:70 Demikian pula: “Wamaa anta bihaadil umyi ‘an dholaalatiihim” Terdapat dalam Alquran Surah An-Naml:80)
  3. Abdullah Ghaznawi, seorang tokoh waliyullah dan mulham yang masyhur di india, sebagaimana tercantum di dalam buku Itsbatul ilhaam wal bai;’at karangan Mlv Abdul Jabbar Ghaznawi dan buku Swanah-e Umri Molwi Abdullah Ghaznawi oleh Mlv. Abdul Kabbar Ghaznawi dan Mlv Ghlam Rasul, cetakan Mathbu’ah Alquran, Amritsar, disebutkan bahwa Abdullah Ghaznawi menerima wahyu sbb: Fashbir kamaa shobaro ‘ulul azmi minarrusul” (Terdapat dalam Alquran dalam Surah Al-Ahqaf:35) kemudian :”Washbir nafsaka m’aalladziina yaduuna robbahum bil ghodaati wal asyiyyi” (Tewrdapat dalam Alquran surah Al-Kahfi:28) Demikian pula:”Fashollili robbika wanhar” (Terdapat dalam, Alquran surah Al-Kautsar:3) Demikain pula: “Walaa tuthi’ man aghfainaa qolbahuu ‘an Dzikrinaa wattaba’a hawaahu” (Terdapat dalam Alquran Surah Al-Kahfi:28)
  4. Dalam futuhul Ghoib Syekh Abdul Qadir Jaelani bersabda: “Tughnaa watusyajja’ waturfa’ wa tukhootobu biannakal yauma ladainaa makiinun Amiin” bagian akhir ini pun terdapat di dalam ayat Alquran.
  5. Kemudian dalam Al matholib jamaliyah, berkenaan dengan Imam Syafii, Al Ustaad As sahaani menulis sebuah kitab bahwa Imam Syafii melihat Tuhan dalam mimpi dan berdiri dihadapan beliau. Maka Tuhan memanggil beliau. “wahai Muhammad bin Idris, tegaklah diatas agama Muhammad dan jangan lah sekali bergeser dari itu. Kalau tidak kamu sendiri akan sesat dan akan menyeatkan orang-orang, Apakah kamu bukan imam orang-orang? Kamu janganlah sama sekali takut pada raja itu, bacalah ayat ini, (Q.S Yaasin:8) yang artinya:”Sesungguhnya Kami telah memegang belenggu di leher mereka lalu tangan mereka diangkat ke dagu, maka mereka itu tertengadah” Imam Syafii berkata, “maka saya bangun dengan kudrat Tuhan ayat meluncur dari lidah saya”

Dari contoh wahyu-wahyu yang diterima oleh wujud suci tersebut diatas nampak jelas ada wahyu-wahyu yang diterima oleh wujud-wujud suci tersebut di atas, nampak jelas ada wahyu-wahyu yang hanya berupa ayat-ayat Alquran ,ada yang bukan ayat Alquran dan ada yang merupakan campuran antara ayat-ayat Alquran dan yang bukan.

Syekh Muhyiddin Ibnu Arobi sendiri menerangkan lebih lanjut dalam buku futuhatttul Makiyyah juz II hal 236.

Semua macam wahyu Allah ini terdapat pada hamba-hamba Allah, yakni para wali. Ya, Wahyu yang khusus untuk para nabi dan wali-yang mereka tidak dapatkan-adalah wahyu syariat. Jadi wahyu yang didalamnya terdapat hukum baru tidak akan turun. Jika ada nabi dalam umat ini yang dibangkitkan dan dia memperoleh wahyu maka tidak halangan dari segi akal dan nash, dengan syarat didalamnya tidak ada hal yang bertentangan dengan Alquran”

Abdul Wahhab Asysya’roni r,h berkata dalam Al yawaakitul jawaahir juz II hal.84 sebagai berikut:

Kita tidak mendapat memberitahukan dari Tuhan bahwa sesudah RaSululllah saw ada wahyu syariat yang akan turun tetapi untuk kita, wahyu dan ilham pasti ada”

Dalam hal ini kata-kata wahyu dan ilham digunakan supaya para pembaca memperhatikan disana sama sekali jangan lupa bahwa wahyu yang di dalamnya tidak ada perintah baru menentang perintah Alquran itulah yang bisa turun dan wahyu syariat ataupun wahyu kenabian yang membawa hukum baru tidak akan turun lagi.

Allamah Ullusi dalam tafsir bliau Ruhul Ma’ani berkata:

“Kalian hendaknya mengetahui bahwa sebagian ulama mengingkari turunnya malaikat/wahyu pada hati selain nabi sebab,mereka tidak merasakan lezatnya. Jelasnya bahwa malaikat itu turun tetapi dengan syariat nabi Kita saw.”

Pandangan Ahmadiyah Tentang Tadzkirah

Baiklah sekarang pembahasan kita adalah bagaimana pendapat Ahmadiyah tentang tadzkirah? Hal ini penting, kenapa? kendatipun satu fihak mengatakan tadzkirah adalah sebagai kitab suci Ahmadiyah tetapi dari fihak lain yaitu Ahmadiyah tidak lah mempunyai pendapat seperti yang dialamatkan oleh pihak pertama tadi. Kedua adalah Mengapa Isi dari Tadzkirah yang di klaim sebagai kumpulan wahyu itu mempunyai kesamaan redaksional kata dengan ayat-ayat yang terdapat dalam Alquran? Dari hal ini Ahmadiyah telah melakukan pembajakan Alquran (suatu istilah yang sekarang popular dialamatkan kepada Ahmadiyah berkaitan dengan tadzkirah ini). Permasalahan-permasalahan ini lah yang akan dibahas di dalam tulisan singkat saya ini. Semoga para pembaca dapat memahami niat baik kami untuk menjelaskan fakta sebenarnya, jangan sampai dengan isu-isu miring di luar akan menjadikan bahan stigma tehadap Ahmadiyah dan lebih dihindari adalah jangan sanpai stigma yang terbentuk menjadi sesuatu yang namanya fitnah.

Sejarah Tadzkirah

Tadzkirah itu salah satu artinya adalah sebuah catatan, biografi, kenangan. Dari itu memang demikian adanya bahwa Tadzkirah itu merupakan kumpulan wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi yang diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Yang dikumpulkan dari buku-buku. Bahasa sederhananya adalah tadzkirah itu merupakan koleksi wahyu, kasyaf, mimpi yang berceceran di dalam tulisan-tulisan Pendiri jemaat Ahmadiyah dan dikumpulakan menjadi satu buku yang dinamakan tadzkirah.

Tadzkirah sendiri belum ada di zaman Ghulam Ahmad hidup, melainkan buku itu dibuat kemudian atas prakarsa Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad pada sekitar Tahun 1935, berselang 27 tahun setelah kewafatan Mirza Ghulam Ahmad. Beliau menginstruksikan kepada kepada Nazarat ta’lif wa tashnif, sebuah biro penerangan dan penerbitan Jamaah Ahmadiyah pada waktu itu untuk menghimpun wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf dan mimpi-mimpi yang terdapat dalam berbagai macam terbitan (buku-buku, jurnal-jurnal, selebaran, majalah dan berbagai surat kabar) yang mana materi terbitan itu telah disebarkan kepada umum pada saat itu. Selain itu, dari catatan-catatan harian Mirza Ghulam Ahmad juga ditemukan keterangan mengenai pengalaman ruhani beliau dan juga adanya kesaksian para sahabat beliau, anggota keluarga, kerabat, dll dimana mereka diberitahu oleh Mirza ghulam Ahmad mengenai wahyu, kasyaf yang beliau terima dari Allah. Untuk maksud itu dibentuklah sebuah panitia yang terdiri dari Mln Muhammad Ismail, Syekh Abdul Qadir dan Mlv Abdul Rasyid. Panitia tersebut menyusun buku tadkirah secara sistematis dan kronologis. Setelah pekerjaan itu selesai maka buku tersebut diberi nama tadzkirah.

Inilah sejarah singkat dari tadzkirah itu yang mungkin bisa menjadi bahan acuan. Mungkin ada satu anggapan bahwa kalaupun kenyataannya seperti itu tetapi Ahmadiyahlah manjadikannya sebagai kitab suci, kalau seperti itu anggapannya maka itu hanyalah prasangka semata, karena Ahmadiyah tidak memiliki kitab suci kecuali Alquran Kariim yang diturunkan oleh taala kepada wujud suci Rasulullah saw. Istilah “tadzkirah sebagai kitab suci”justru dipopulerkan oleh M. Amin Jamaluddin dalam buku karangannya yang berjudul Ahmadiyah dan Pembajakan Alquran. Jadi bukan Ahmadiyah dan memang demikian bahwa Ahmadiyah tidak pernah dan takkan penah menganggap seperti itu, bahwa tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah, titik! Dimanapun, didalam literatur-literatur jemaat Ahmadiyah maupun dalam ceramah-ceramah atau dalam obrolan-obolan ringan sekalipun.

Yang menjadi keberatan dan mungkin ini juga yang dijadikan bahan kesimpulan yang mengatakan tadzkirah merupakan Kitab suci Ahmadiyah. Keberatan tersebut adalah mengapa di dalam tadkirah terdapat wahyu-wahyu yang secara redakdional katanya sama dengan Alquran.

Memang demikian adanya, tetapi itu bukaknah kehandak yang menerima. Tujuannya adalah untuk memberikan penekanan atas beberapa aspek konotasi dan penerapannya terhadap lingkungan –lingkungan dan keadaan-keadaan tertentu.

Wahyu-wahyu yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad memang sebagian sama seperti yang kita temukan di dalam Alquran berupa pengulangan harfiah. Namun statusnya bukanlah wahyu-wahyu syariat. Ia mengandung makna-makna dan falsafah tertentu yang ingin diutarakan oleh Allah taala kepada hamba pilihannya sesuai dengan kehendak-Nya. Ini bukanlah pembajakan ayat-ayat zuci Alquran, sedikitpun tidak mengurangi status Alquran sebagai kitab syariat yang paling sempurna. Justru hal itu menggambarkan kesempurnaannya. Salah satu sifat Allah taala adalah Mutakallim (berkata-kata). Tidak ada tertera di dalam Alquran maupun ditempat lainnya bahwa setelah Alquran itu selesai diturunkan maka Allah tidak mau berkata-kata lagi dan akan membuang sifat-Nya yang satu itu untuk selamanya. Dia akan tetap berkata-kata, sedangkan manusia tidan bisa mendikte Allah Taala untuk tidak mengucapkan kembali apa-apa yang telah dan pernah Dia ucapkan sebelumnya.

Selain dari itu adanya pengulangan ini juga menunjukkan ketauhidan yang merupakan intisari daripada Islam, yakni Allah yang dahulu telah berkata-kata kepada Rasulullah saw serta yang telah menurunkan Alquran, Dia itu jugalah yang kini telah berkata-kata dengan hamba pilihan-Nya, bukan Tuhan yang lain.

Salahkah jika seseorang mendapatkan wahyu seperti itu?

Ibarat di dalam taman yang asri terdapat ribuan jenis pohon dengan beragam buah dan bunga, demikian pula halnya terbukti bahwa di dalam lembaran sejarah Islam terdapat wujud-wujud suci yang mendapat karunia berkomunikasi dengan Allah taala melalui wahyu, ilham, rukya dan kasyaf. Diantara wahyu-wahyu itu ada yang mirip kata-katanya dengan yang tercantum di dalam ayat-ayat suci Alquran. Bagi orang-orang yang tidak paham dan tidak pernah menghayati pengalaman rohani, sudah barang tentu akan menuduh para wujud suci itu sebagi pembajak Alquran Pula, naudzubillah. Tetapi memang demikian faktanya bahwa bukan Mirza Ghulam Ahmad saja yang mendapatkan wahyu Qurani tetapi banyak juga para tokoh-tokoh suci yang mengalami hal yang serupa.seperti yang telah saya tuliskan pada awal-awal tulisan ini.

16 Tanggapan

  1. Quote:
    kumpulan wahyu-wahyu

    Jawab:
    Bahasa arabnya “kumpulan” itu apa bang????? ke..ke..ke…
    lalu wahyu-wahyunya berasal dari siapa bang???? ke…ke…ke..
    Silahkan anda jawab…gw tunggu jawaban ente

  2. Quote:
    Namun statusnya bukanlah wahyu-wahyu syariat. Ia mengandung makna-makna dan falsafah tertentu yang ingin diutarakan oleh Allah taala kepada hamba pilihannya sesuai dengan kehendak-Nya. Ini bukanlah pembajakan ayat-ayat zuci Alquran, sedikitpun tidak mengurangi status Alquran sebagai kitab syariat yang paling sempurna.

    Jawab:
    Tolong dijelaskan tentang wahyu yang diterima MGA: Aku (tuhannya) adalah kamu (MGA), kurang lebih spt itu.
    Trus ada wahyu yang bilang jika orang tidak percaya MGA sebagai nabi maka dia kafir, apa ini bukan syariat?
    Wassalam,

  3. Mirza Ghulam Ahmad :
    “Tugas yang diberikan Tuhan kepadaku ialah agar aku dengan cara menghilangkan hambatan di antara hamba dan Khalik-nya, menegakkan kembali di hati manusia, kasih dan pengabdian kepada Allah. Dan dengan memanifestasikan kebenaran lalu mengakhiri semua perselisihan dan perang agama, sebagai fondasi dari kedamaian abadi serta memperkenalkan manusia kepada kebenaran ruhaniah yang telah dilupakannya selama ini. Begitu juga aku akan menunjukkan kepada dunia makna kehidupan keruhanian yang hakiki yang selama ini telah tergeser oleh nafsu duniawi. Dan melalui kehidupanku sendiri, memanifestasikan kekuatan Ilahiah yang sebenarnya dimiliki manusia namun hanya bisa nyata melalui doa dan ibadah. Di atas segalanya adalah aku harus menegakkan kembali Ketauhidan Ilahi yang suci, yang telah sirna dari hati manusia, yang bersih dari segala kekotoran pemikiran polytheistik[18]“

  4. Berdoalah untuk dirimu sendiri wahai pendusta agama.!
    Kebenaran yang ada adalah engkau bukan termasuk golonganku!
    Maka api nerakalah tempatmu !

    ***************

  5. Banyak orang Islam yang percaya bahwa hanya dia dan kelompoknya saja yang memiliki surga, mereka sudah tidak butuh petunjuk dari Tuhan (karena tidak ada wahyu lagi yang turun), karena bagi mereka hanya dengan Al-Quran dan hadis saja, mereka akan dapat menemui jalan ke surga, mereka tidak membutuhkan lagi hubungan dengan Pencipta surga itu sendiri, yaitu Tuhan yang maha Esa, mereka tidak butuh penjelasan dari Pengarang Al-Quran itu sendiri mengenai isi dari Al-Quran karena mereka beranggapan bahwa ilmu mereka sudah sanggup membuka rahasia kitab suci itu.(padahal meskipun umat Islam memiliki Al Quran yang terjaga dari perubahan, umat sudah terpecah menjadi berbagai golongan)
    Bagi kelompok ini, dalil-dalil yang dijelaskan dari pihak Ahmadiyah tidak mau mereka telaah, tapi mereka membalasnya dengan olok-olok saja. Padahal Allah sudah memperingati orang yang beriman untuk tidak berolok-olok dalam Al Quran surah 49:11,
    Tapi bagi yang eling, bersabarlah karena Allah sudah mengingatkan kita di surah 88:21-22, bahwa meskipun kita diperintahkan memberi peringatan, tapi kita tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang kita beri peringatan

  6. Quote:
    bukan Mirza Ghulam Ahmad saja yang mendapatkan wahyu Qurani tetapi banyak juga para tokoh-tokoh suci yang mengalami hal yang serupa

    Jawab:
    Tapi tidak ada di antara mereka kecuali MGA saja yang mengaku nabi, penjelmaan Isa, Khrisna dsb.

  7. Saya kutipkan:
    Ahmadiyah mengatakan; “Kitab Suci kami hanyalah Al Qur’anul Karim.” Ahmadiyah juga mengatakan, bahwa “Tadzkirah” bukanlah kitab suci mereka, tetapi merupakan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935 (27 tahun setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia tahun 1908).
    Jawab kita: Penjelasan Ahmadiyah ini juga tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya kata-kata berikut ini: “TADZKIRAH YA’NI WAHYU MUQODDAS“, artinya TADZKIRAH adalah WAHYU SUCI. Jadi, kaum Ahmadiyah jelas menganggap bahwa kitab Tadzkirah adalah “wahyu yang disucikan”. Karena itu, sangat tidak benar jika mereka tidak mengakuinya sebagai Kitab Suci. Sangat jelas, mereka memiliki kitab suci lain, selain al-Quran, yaitu kitab Tadzkirah. Tentu saja, umat Islam seluruh dunia menolak dengan tegas, bahwa setelah Nabi Muhammad saw, ada nabi lagi, atau ada orang yang menerima wahyu dari Allah SWT.

    Dalam buku Apakah Ahmadiyah itu? Karangan HZ. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad disebutkan: “Hadhrat Masih Mau’ud a.s tampil ke dunia dan dengan lantangnya menyatakan, bahwa Allah Ta’ala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan Dia bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau, agar mereka pun berusaha memperoleh ni’mat serupa itu.” (hal. 63-64).

    Silakan datang ke:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=79

    Di sana dibukakan pintu2 Ahmadiyah yang sebenarnya, barangkali sebagian besar Ahmadi pun belum pernah melihatnya juga.

  8. Eitsss….
    Ada yang mengacaukan situs di atas…
    Ada yang takut, kalo ketahuan bolong2-nya Ahmadi…
    Mengapa kebenaran ditutup-tutupi???
    Apa ini yang namanya Islam???
    Jangan takut kami akan tampilkan lagi…
    Salam,

  9. ahmadiyah sangat menyesatkan menurut berita ahmadiyah adalah utusan inggris untuk mempengaruhi umat islam supaya tidak berpedoman/meninggalkan Al-Qur’an sebagai pedoman dan undang – undang

  10. Dear Ahmadi,
    Nggak mau disebut kitab suci, tapi menyebutnya kitab yang mengandung wahyu-wahyu “suci” yang diterima MGA. Bukankah begitu?
    Wassalam,

  11. Bt semua,
    Wahyu2 yang “suci” kata Ahmadiyah dalam Tazkirah:

    “Visi dan misiku tidak lain adalah seperti Al Quran dan kedua tanganku ini akan melahirkan karya seperti Al Quran” (hal. 668)

    “Engkau (Mirza) di sisiKu berkedudukan sebagai anakKU, lagi engkau di sisiKU mendapatkan kedudukan yang tidak dapat diketahui oleh mahluk lain” (hal.236)

    “Kalau bukan karena engkau (Mirza), niscaya Aku tidak akan ciptakan alam semesta” (hal.649)

    “Yasin, sesungguhnya engkau (Mirza) adalah tergolong rasul-rasul” (hal,659)

    “Engkau (Mirza) adalah imam yang diberkati, maka laknat Allah akan dijatuhkan kepada orang yang kufur (pada engkau/Mirza)” (hal. 749)

    Silakan komentar dan koreksi jika ada yang salah dalam mengutipnya.
    Wassalam,

  12. Kang Jusman,
    Seperti juga Kang Deden pastinya menyangka itu wahyu2 yang salah. Tapi sudahkah Akang mengeceknya lagi di arsip2 yang lama?
    Silakan juga buat ahmadi2 lain untuk membuka mata dan hati.
    Wassalam,

  13. Buat Kang Jusman dan Kang Deden,
    Sebagai patokan halaman buku Tazkirah di atas, untuk wahyu terkenal (dan pasti “ada” karena sering dikutip oleh ahmadi) dari MGA yaitu:
    “Sesungguhnya Aku akan menghinakan pada orang yang menghinakan pada engkau (Mirza)”
    yaitu pada halaman 495.
    Wassalam,

  14. dimana aku bisa dapatkan kitab tsb?

  15. bisa dicari di http://isalmic.us.to
    atau http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59
    apabila wahyu tsb belum diupload teman saya shadow nanti saya minta tolong beliau untuk mengupload wahyu tersebut. Insya Allah beliau akan membantu.

Tinggalkan Balasan