Syafaat dan Penebusan Dosa

 

Karena tidak memahami fasafah syafaat orang-orang sering secara keliru melontarkan kritikan dan menyatakan bahwa syafaat itu sama saja dengan penebusan dosa, padahal tidak sama. Penebusan dosa membuat amal-amal baik menjadi sesuatu yang tidak diperlukan lagi. Sedangkan syafaat justru menggerakkan timbulnya amal-amal baik.

Sesuatu yang tidak mengandung falsafah di dalamnya adalah sesuatu yang tidak berarti. Ini merupakan pendakwaan kita bahwa di dalam asas-asas dan akidah-akidah islam serta dalam setiap ajarannya terkandung suatu falsafah. Dan didalamnya terdapat aspek ilmu pengetahuan. Hal-hal ini tidak terdapat di dalam akidah-akidah agama lainnya. Bagaimana syafaat itu menggerakkan amal-amal baik?

Jawaban pertanyaan itu juga terdapat dalam Quran syarif dan terbukti bahwa syafaat itu tidak sama seperti penebusan dosa. Sebab syafaat itu tidak dijadikan sebagai tumpuan penuh yang menimbulkan kemalasan dan keengganan melakukan amal perbuatan. Bahkan difirmankan “idza saalaka ibaadi ‘anni fainni qoriib – apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakan sesungguhnya Aku dekat”. (Al-Baqarah:187). Orang yang dekat dapat melakukan apa saja, sedangkan orang yang jauh apalah yang dapat ia lakukan? Jika terjadi kebakaran bagi orang jauh selam belum sampai berita kepadanya maka dia tidak akan datang kecuali ketika yang terbakar itu sudah habis hangus. Oleh karena tiu difirmankan: “Katakan Aku ini dekat.”

jadi ayat ini juga memberitahukan rahasia pengabulan doa. Yaitu dengan cara menimbulkan suatu keimanan yag kamil terhadap kekuasaan dan cata kekuatan Allah taala  serta dengan cara meyakini bahwa Dia itu setiap saat dekat. Banyak sekali doa yang ditolak dan penyebabnya adalah lemahnya keimanan si pemanjat doa itu dibuat menjadi layak untuk dikabulkan. Sebab jika doa itu tidak memenuhi syarat syarat Allah maka walau pun segenap nabi bersatu memanjatkan doa tersebut tetap saja tidak akan dikabulkan. Dan tidak akan ada manfaat serta buah dari doa itu.

Nah hal ini patut dipikirkan. Yakni di satu sisi telah difirmankan kepada Rasulullah saw: “wa shalli alaihim inna shalataka  sakanul lahum- [dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka]” (At-Taubah:103). Yakni doa engkau membuat mereka tenteram dan api gejolak semangat serta dorongan-dorongan nafsu menjadi dingin. Sedangkan disisi lain Allah memerintahkan: “Falyastajibuuli- [maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku’” (Al-Baqoroh: 187)

dengan mensejajarkan kedua ayat ini akan nampak bagaimana hubungan antara orang yang memanjatkan doa dengan orang yang memohon agar didoakan, dan kemudian mengenai dampak-dampak yang timbul dari hubungan itu. Sebab tidak ditumpukan hanya pada hal itu saja, yakni bahwa syafaat Rasulullah saw dan doa itu saja sudah mencukupi. Lalu orang itu tidak perlu lagi melakukan apapun. Dan tidak pula anggapan ini dapat menyebabkan diraihnya keberhasilan, yakni bahwa syafaat rasulullah saw serta doa itu dianggap tidak perlu.

Ringkasnya di dalam Islam tidak ada rahbaniyyat dan tidak pula ajaran untuk duduk saja tanpa berbuat apapun. Melainkan kedua gaya hidup itu ditolak lalu membimbing pada shirotol-mustaqiim. Islam tidak menghendaki agar menerapkan pola-pola yang menimbulkan berbagai macam penderitaan pada tubuh, dan agar menjeratkan diri sendiri dalam kesluitan-kesulitan. Dan tidak pula supaya sepanjang hari dilalui dengan bermain dan berjalan-jalan bersenang-sengan saja di setiap malam siangnya.

Jalan untuk meraih kedekatan Allah taala adalah, tunjukkanlah ketulusan bagi-Nya. Qurub yang telah diraih Nabi Ibrahim as itulah penyebabnya. Difirmankan: “wa ibroohiimanlladzi wafaa – [dan Ibrahim yang taat memenuhi perintah-perintah Allah] (An-Najm:38).

Ibrahim as adalah beliau yang telah memperlihatkan kesetiaan. Menunjukkan kesetiaan, ketulusan dan keikhlasan terhadap Allah taala, menghendaki suatu maut. Selama manusia belum bersedia meninggalkan dunia dan menghapuskan segala kelezatan serta kenikmatannya dan tidak bersedia menanggung segala kehinaan, kesusahan dan penderitaan maka sifat itu tidak akan dapat timbul.

Penyembahan berhala tidak hanya bahwa manusia penyembah pohon atau batu tertentu. Melainkan artinya juga mendahulukan segala sesuatu yang menghalangi proses kedekatan dengan Allah taala. Itulah berhala. Dan begitu banyak berhala yang ada dalam diri manusia, sehingga dia tidak tahu menahu lagi bahwa dia sedang melakukan penyembahan terhadap berhala-berhala.

Jadi selama keikhlasan itu tidak diperuntukkan hanya untuk Allah dan belum bersedia untuk menanggung segala macam bencana di jalan-Nya, maka timbulnya ketulusan dan keikhlasan adalah sesuatu yang sulit. Adapaun julukan yang diperoleh Ibrahim as apakah belaiu peroleh dengan begitu saja? Tidak. Ketika beliau bersiap-siap dan mengorbankan putera beliau saat itu muncul suara “wa ibroohimaal lladzii wafa – dan ibrahim yang taat memenuhi perintah-perintah Allah]” (An-Najm:38)

Allah taala menghendaki amal perbuatan. Dan melalui amal perbuatan itulah dia menjadi ridho. Dan amal itu timbul dari penderitaan. Namun ketika manusia bersedia menanggung penderitaan untuk Allah, maka Allah pun tidak akan memasukkannya ke dalam penderitaan. Lihatlah ketika Ibrahim as bersiap mengorbankan putera beliau guna memenuhi perintah Allah taala, dan semua persiapan telah dilakukan maka Allah taala telah menyelamatkan putera beliau itu. Beliau itu dimasukkan ke dalam api tetapi api tidak dapat memberi dampak pada diri beliau.

Jika manusia bersedia menanggung penderitaan di jalan Allah maka Allah akan menyelamatkannya dari penderitaan-penderittan. Tubuh memang berada dalam kendali kita tetapi ruh tidak. NAmun tidak diragukan lagi ada hubungan antara ruh dan tubuh. Dan hal-hal yang bersifat jasmani pasti berpengaruh pada ruh.

Oleh karena itu jangan pernah beranggapan bahwa tubuh iti tidak memberi pengaruh kepada ruh. Sekian banyak amal perbuatan dilakukan manusia, itu merupakan bentuk perpaduan antara keduanya. Tidak pernah tubuh secara terpisah dan ruh secara terpisah melakukan kebaikan atau perbuatan buruk. Itulah sebabnya dalam hal pemberian ganjaran pahala dan hukuman akan dipertimbangkan juga mengenai hubungan antara keduanya itu.

Sebagian orang karena tidak memahami rahasia ini melontarkan kritikan bahwa surga orang-orang islam itu bersifat jasmani. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa tatkala amal perbuatan saja timbul dengan melibatkan tubuh maka mengapa tubuh harus dipisahkan pada waktu pemberian ganjaran pahala dan hukuman?

Ringkasnya Islam menolak kedua gaya hidup yang ekstrim itu lalu memberitahukan tentang jalan menengah yang seimbang. Kedua gaya hidup tersebut merupakan hal-hal yang berbahaya. Hendaknya dijauhi. Menyiksa tubuh saja tidaklah menimbulkan apa-apa. Dan mencari kesenangan dan kenyamanan saja, juga tidak menimbulkan hasil apapun. (Malfudzat, add, nadzir isyaat, london, 1984, jil4, h. 427-430 /MI 22.02.2001)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: