Satu Tinjauan atas Kebebasan Masyarakat Barat

Bagaimana kita melihat kebebasan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat barat di tinjau dari segi pandang keagamaan? Ini merupakan satu pertanyaan yang sangat menarik yang di dalamnya seluruh manusia seharusnya tertarik, lebih sungguh-sungguh dari padanya. Nyatanya adalah bahwa pengejaran kesenangan dan rasa kebebasan yang digabungkan bersama telah menjadikan masyarakat barat seperti yang ada di hari ini. Kebebasan dari apa? Kebebasan dari segala ikatan yang mengikat manusia kepada Pencipta-nya. Inilah apa yang saya lihat dalam konsep kebebasan masyarakat barat hari ini. Kebebasan dari segala kemuliaan (kebaikan) yang menciptakan tanggungjawab-tanggungjawab, yang mengikat kalian dan yang membatasi langkah-langkah kalian mencari kesenangan dan kepuasan. Itulah kebebasan yang orang-orang Barat telah dapatkan hari ini dan masih sedang terus dicari – satu pencarian kesenangan yang gila di mana pun ia diperoleh


Manusia dilahirkan dengan kemampuan-kemampuan terbatas dan sumber-sumber yang terbatas. Dia dilahirkan dengan gagasan terbatas dan jangkauan terbatas. Maka, adalah tak mungkin bagi manusia untuk memperoleh  kesenangan tak terbatas sebagaimana yang dia inginkan dengan hasil bahwa, lebih sering dari pada tidak, perjalanan pencarian itu berakhir tanpa hasil apapun. Hanya ada perasaan hampa yang tertinggal sesudah pencarian kesenangan duniawi yang gila itu. Ada pengaruh-pengaruh sampingan lain yang menghancurkan dan masyarakat sedang condong ke arah ketidak tenangan.

Saya akan menerangkan – dalam masyarakat Timur, misalnya, terlebih khusus mereka yang berada di bawah pengaruh agama Islam, kaum wanita dan kaum pria pada umumnya bergaul terpisah dan ada ajaran-ajaran untuk mengendalikan arus hasrat-hasrat seksual antara pria dan wanita hingga tahap tertentu. Sebagaimana dengan hidupnya kawat-kawat listrik, kawat negatif adalah berbeda dan kawat positif adalah lain. Jika tak ada sekat di antara itu, apa yang akan berlaku? Aliran energi menjadikan keadaan yang lebih sulit, dan bergerak melalui beberapa mesin dan peralatan, akan menciptakan aliran pendek serta menghancurkan dirinya sendiri. Maka, Islam memandang manusia untuk menggalakkan mereka dengan suatu maksud guna mengendalikan mereka dan meletakkannya pada penggunaan yang tepat. Islam percaya bahwa jika diberikan kebebasan tak terbatas [maka] dorongan-dorongan dan hasrat-hasrat itu akan ‘menendang’ balik dan menghancurkan para pencari kepuasan itu sendiri.

Sebaliknya, dalam masyarakat di mana para wanitanya tetap terpisah dari pria, hanya pandangan sekilas pada kecantikan wajah memberikan kepuasan yang sedemikian rupa pada orang-orang dalam masyarakat itu hingga kalian [orang Barat] tidak dapat memperolehnya dari seorang telanjang, betapapun cantiknya dia, sebab kalian terbiasa dengan ketelanjangan yang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Sebagaimana kalian mencapai keadaan puas dengan memperoleh sedikit demi sedikit pancingan, sebagaimana terjadi dengan alkohol. Pada mulanya seteguk alkohol mamberikan kepuasan besar pada mereka yang baru pertama mengenal alkohol namun kemudian secara bertahap mereka relatif lebih sedikit memperoleh kepuasan. Mereka mengharapkan lebih banyak dan lebih banyak lagi hingga mereka menjadi pecandu alkohol. Alkohol sendiri menjadi sumber penyakit alih-alih sumber kesenangan. Inilah secara tepat apa yang telah terjadi pada masyarakat barat dalam mengejar kesenangan dan kepuasan. Mereka menciptakan cara-cara baru atas nama kebebasan, dalam nama emansipasi dari segala pemikiran lama. Tapi di mana mereka telah berakhir?

Saya telah mempelajari masyarakat Amerika, sebagai contoh. Apa yang terjadi di sana, sesaat sesudah mereka mulai menciptakan jalan-jalan kepuasan yang baru? Semua majalah diabdikan untuk hal-hal ini, semua kajian kejiwaan dikaitkan dengan hal-hal ini. Atas nama ilmu pengetahuan mereka memberi tahukan pada masyarakat untuk mencari kesenangan dengan cara-cara berbeda – menuju sadisme, menuju ini, menuju itu. Membolehkan homoseksual, membolehkan penyimpangan dalam bentuk apapun yang manusia dapat pikirkan untuk mencari kepuasan. Mereka diberi tahukan bahwa tak ada bahaya, tak ada tabu – itulah pesan masyarakat modern – dan mereka melakukannya! Tapi sampai sejauh mana? Mereka selalu menjumpai kematian pada jalan apapun yang mereka tempuh. Dengan hasil bahwa sejenis kegilaan berjangkit dalam masyarakat – mereka mengikuti Bohemianisme, mereka menjajal dengan hippy dan kadang-kadang mereka menjadi skinheads – hanya untuk memperoleh suatu kepuasan hidup – dan kepuasan itu mulai menendang balik sesudah beberapa saat. Sebagian orang mulai menggunakan narkoba dan memburunya dimana pun mereka meletakkan tangan mereka. Namun, itu tidak mungkin – seluruh negeri tidak dapat dibiarkan menjadi pecandu narkoba, maka Pemerintah mengatasinya sesudah membiarkan hingga batas tertentu dan perang [terhadap narkoba] berlangsung dan puncaknya para pecandu narkoba memenangkan pertandingan. Kini masyarakat Amerika sepenuhnya tak berdaya di tangan orang-orang Mafia itu. Kejahatan menjadi wabah sedemikian luas hingga orang-orang yang ingin kepuasan akan membunuh hanya demi petualangan yang mereka kejar.

Di Amerika, ketika saya berada di sana beberapa tahun yang lalu, ada satu stasiun radio yang sepenuhnya dikhususkan untuk memberitakan pembunuhan-pembunuhan dan setiap lima menit, secara teratur, satu pembunuhan terjadi. Orang-orang sedang dirampok dan dibunuh, bukan demi sepotong roti, bukan demi kebutuhan-kebutuhan hidup tapi hanya demi petualangan itu. Mereka mengejar kesenangan (kepuasan) dimana pun mereka dapat menjumpainya. Itu merupakan penyakit masyarakat. Atas nama kebebasan mereka sedang meletakkan diri mereka sendiri dalam belenggu-belenggu yang dari padanya (malang sekali), mereka tak pernah dapat dibebaskan lagi. Mereka sedang mengarah menuju kehancuran karena pengejaran ini, pengejaran yang gila ini demi kepuasan, telah menjadikan mereka sepenuhnya “un dependent”(tak bergantung), saya tidak katakan “independent” (bebas), tapi “un dependent” terhadap Tuhan mereka. Saya ingin menjelaskan perbedaan antara “independent” (bebas) dan “un dependent” (tak bergantung). Tak seorang pun dapat bebas dari Tuhan tapi sebagian orang mungkin percaya bahwa mereka tidak bergantung pada Tuhan mereka maka untuk mereka saya gunakan kata “undependent” (tak bergantung). Mereka tidak lagi memerlukan Tuhan dan kebendaan (materialisme) sedang membawa mereka pada kehancuran lebih lanjut. Mereka sedang berjuang untuk kalah. Pengejaran kesenangan yang mereka terapkan kini telah mencapai akhir, dimana alih-alih kepuasan justru hal itu memberi mereka  kepedihan (penderitaan) dan tiada yang lain.

Di Amerika, misalnya, penyakit-penyakit baru sedang timbul yang para ahli penyakit tak berpikir sebelumnya. Penyakit-penyakit itu sedang tersebar dengan begitu cepat dan demikian tak diinginkan oleh semua hingga untuk dapat menghadapinya manusia membayangkan bahwa itu sudah berada di luar kendali. Saya akan berbicara mengenai herpes (penyakit kelamin) yang berhubungan dengan beberapa penyakit lain dan kini, menurut fakta-fakta dan catatan-catatan terakhir yang diterbitkan oleh American Health Department, 30% dari penduduk Amerika menderita herpes dan pada perkembangan berikutnya, mereka percaya bahwa itu mungkin akan mencapai 60% – dan kemudian seluruh masyarakat. Maka ini bermakna bahawa pengejaran kepuasan telah menjadi sumber ketakutan bagi mereka. Tak ada orang Amerika dapat merasa aman dalam pergaulan dengan orang Amerika lainnya sebab dia tidak mengetahui kapan dan macam mana dia dapat [ketularan] penyakit ini yang sedang menyiksa mereka, yang menjadikan mereka gila, yang sedang mempermainkan urat syaraf mereka.

Inilah duduk persoalan yang orang-orang tidak ingin melihatnya. Dimana-mana dalam televisi mereka ditunjukkan permainan-permainan dan dansa-dansi gila serta pamer kecantikan seseorang dan apa yang tidak ada. Saya tidak perlu menjelaskan hal-hal ini kepada kalian sebab kalian dapat menjelaskan hal-hal ini lebih baik dari pada saya sendiri. Saya tidak berpengalaman pada hal-hal ini, hanya apa yang saya lihat di sini – saya coba katakan pada kalian. Hanya menunjukkan arah dari perkara-perkara ini adalah cukup.

Maka apa jawabannya? Satu-satunya jawaban adalah ini – bahwa kesenangan atau kepuasan hakiki, kesenangan abadi, kepuasan dan kebahagiaan sejati hanya dapat dimiliki dengan menegakkan hubungan seseorang dengan Pencipta-nya. Untuk itulah manusia diciptakan. Masyarakat telah kehilangan arah. Maka mengapa Tuhan tidak dipedulikan lagi untuk keselamatan manusia ketika dia tidak menuju pada tujuan penciptaanya? Setiap sesuatu diciptakan untuk satu tujuan tertentu dan menurut Kitab Suci Al-Qur’an, manusia diciptakan untuk mengenal Tuhan-nya. Pada tahap-tahap awal kehidupan tak ada hewan yang telah cukup berkembang untuk menyadari hal-hal yang hanya disadari manusia. Spesis pertama yang dapat berhubungan dengan Pencipta-nya adalah dalam wujud manusia – saya maksudkan adalah hubungan langsung secara sadar. Inilah apa yang Al-Qur’an Suci beri tahukan kepada kita – untuk mencapai tujuan itu, untuk menuju Tuhan sesegera mungkin dan tetap bersama Dia, untuk hidup bersama Dia, untuk berbicara dengan Dia, untuk merasakan kedekatan-Nya, dan sebagainya. Al-Qur’an Suci memberi tahukan kita bahwa inilah kebahagiaan, inilah kesenangan (kepuasan). Kitab itu juga memberi tahukan kita bahwa dengan hidup lebih dekat dengan Tuhan kalian, kalian menjadi mulia, sebab Dia adalah mulia.

Satu-satunya cara memperbaiki masyarakat adalah dengan membawa masyarakat itu lebih dekat kepada Tuhan sebab Tuhan milik semua orang dari setiap warna kulit, bangsa dan keturunan. Maka mereka yang menjadi milik Allah mempunyai rasa cinta kasih untuk semua orang. Mereka tidak membedakan antara putih dan hitam, antara Utara dan Selatan, antara Barat dan Timur sebab mereka adalah milik Tuhan. Maka satu-satunya jalan menanamkan kemanusiaan adalah kembali kepada Tuhan. Inilah pesan saya untuk kalian – lakukan sekarang sesegera mungkin! Saya telah menyaksikan peperangan yang merugikan selama beberapa hari saya berada di Australia. Paling sedikit katakanlah hal-hal itu sangat buruk bentuknya, tapi saya tidak kehilangan harapan, sebab tidaklah hilang harapan bagi manusia selama orang dapat berdo’a, selama Allah dapat mendengar kita dengan kasih sayang, kita tidak dapat kehilangan harapan sama sekali.
Tulisan ini diambil dari acara tanya jawan Mirza Tahir Ahmad, Khalifah Ahmadiyah ke 4 pada September 1983 di West Ferry, Australia

Sumber: Review of Religions, January 1994, hal. 46-49. Terjemah: Muharim Awaludin, Kemang-Bogor.

2 Comments to “Satu Tinjauan atas Kebebasan Masyarakat Barat”

  1. Assalamualaikum, salam kenal dulu ya, sobat.🙂

  2. waalaikum salam…salam kenal juga mang gun. sak di tanjung sakti rupenye, salam kenal sak di jeme jati. aku mpai sekali ke tanjung sakti ke dusun pajar bulan waktu bokap dulu begawi disane.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: